Widya Telah Tiada

widya telah tiada dengan penyakit asma
Cerpen Widya Telah Tiada.

Sahabat sering sekali memberi nilai lebih buat kita. Pada tiga tahun yang lalu dimana seorang Widya juga sangat senang mendapatkan dua sahabat saat dirinya tengah berjuang dengan penyakit yang ia derita.
Di sore itu, Widya termenung di dalam kamar kost sembari menunggu waktu Shalat Isya' meskipun seluruh badannya dirasa sakit. Ya, selain seharian ia harus bekerja di sebuah pabrik rokok, Widya sendiri juga telah lama mengidap penyakit asma kronis yang jika di runut maka ia nggak boleh berlama-lama dengan bau tembakau, sebab hal itu akan semakin menambah parahnya penyakit yang di deritanya.

Waktu Isya' yang ditunggu telah tiba, kumandang suara adzan telah terdengar, Widya pun bergegas menjalankan ibadah tersebut.
Selepas shalatnya selesai, wanita tersebut tidak lupa untuk berdo'a demi kesehatannya serta kebaikan bagi orang-orang yang ia kenal maupun yang tidak dikenalnya. Ya, Widya seorang gadis baik yang selalu mau berbuat kebaikan kepada siapa saja, meskipun itu hanya lewat untaian do'a yang sering mengalir dari hati hingga ujung mulut.
Dia menatapi jam dinding, baru pukul 19:35 wib, ia lantas mengusap sisa air mata yang sejak tadi menggenangi pelupuk.

"Ya Allah, semoga besuk masih ada rizki buatku," suaranya lirih menahan pekik di kerongkongan. Ya, Widya sangat membutuhkan biaya yang tak sedikit, dirinya ingin segera berobat atas penyakitnya.
Bertahun-tahun seorang Widya menahan keinginan itu, ingin sebenarnya ia meminta bantuan orangtuanya, kerabat maupun teman, akan tetapi kedua orangtua Widya telah lama tiada oleh sebab bencana alam yang menggilas perkampungan dimana gadis itu tinggal. Ingin Widya minta bantuan kepad saudara dan kerabat, tapi mereka juga telah menjadi korban keganasan ombak pasang kala itu, dan kerabat Widya pada meninggal.
Entahlah, kenapa anggota keluarganya Widya dan kerabat semua meninggal dunia saat musibah tersebut dan hanya menyisakan Widya seorang diri, hal itu kerap menjadi pertanyaan gadis itu.

Malam bertambah larut kala batin Widya terisak oleh banyaknya persoalan yang semakin hari kian tak tahu diri. Dirinya lantas membaringkan tubuh lelahnya sembari berpikir keras bagaimana uang sebanyak itu ia dapatkan. Ya, keluh kesahnya selama ini yang tak ia ucapkan di hadapan orang lain itu kian menarikan derita. Widya sudah mencobanya untuk berkata jujur kepada Rani dan Dwi, kedua temannya, akan tetapi mulut serasa terkunci dan apa yang menja di keinginannya hanya berhenti di ujung kerongkongan.

Wajah Widya menegang, dirinya berpikir, bukankah asma itu bisa disembuhkan, lalu bagaimana caranya? Sudah beberapa kali ia mencoba obat-obatan baik yang tradisional maupun yang dari dokter, tapi semua itu masih belum bisa menyembuhkan penyakit tersebut, sampai-sampai ia merasa jenuh sendiri.
Itu telah menjadi beban berat yang Widya rasakan, namun begitu dirinya mencoba untuk selalu menghibur diri dengan melakukan sesuatu hal baik yang sekiranya dapat menjauhkan pikiran dari penyakit yang ia derita.

Ya, jika kemudian orang lain bertanya kenapa gadis itu tidak pindah kerja saja dari pabrik rokok? Hal itu sudah pernah terlintas di benaknya, tapi kemudian Widya lebih memikirkan kebutuhan biaya hidup dari pada akan kesehatannya, sebab ia harus membiayai hidupnya seorang diri, apalagi dirinya hidup di kota besar yang semua kebutuhan pokok memang sangat mahal, sementara itu rumahnya (rumah bantuan Pemkab) ia tinggalkan dan tak ada yang mengurusnya.

Tubuh Widya yang mulai kurus itu masih terbujur di atas tempat tidur dengan sebuah kasur lusuh, wanita tersebut mulai terlelap ketika jarum jam menunjuk angka 20:43 wib.
Sepanjang malam Widya tak terbangun, menjelang pagi gadis itu terjaga dan langsung melakukan hal seperti biasanya.
"Uhuk uhuk, dadaku sakit sekali. Apa ini? Astaghfirullah...!!!" Widya terkejut ketika dahaknya kemudian mengeluarkan darah kental. Dia langsung lemas, wajahnya pucat, dia gemetaran sebelum tubuhnya lunglai di tempat tidur.

Digapainya gelas dekat bibir meja, pyar!!! Beling itu pecah menghantam lantai kamar hingga berserakan.
Widya, gadis itu merasakan sesak teramat sangat di ulu hati, nafasnya tersengal-sengal seakan ada sesuatu yang menyumbat, ia pun kembali ambruk.
Selang beberapa menit, seperti biasanya Rani datang ke tempat Widya untuk berangkat barrsama ke tempat kerja. Rani yang tidak mendapat sautan dari Widya, lantas dirinya masuk ke dalam seperti biasanya. Betapa terkejut Rani, sahabat yang selama ini sangat ceria bila di depan semua orang itu tubuhnya terlihat terbujur kaku.

"Widya, Widya...!" Rani tergopoh setelah memegang tangan sahabatnya. Widya tampak tak bergerak, tubuhnya dingin dan kaku, Widya telah meninggal.
Mendengar Widya meninggal dunia, Dwi yang juga teman mereka langsung meluncur ke tempat tinggal Widya. Suasana rumah kost yang sepi itu kini ramai oleh warga setempat yang ingin menyaksikan atau hendak mengetahui apa gerangan yang telah terjadi di tempat tersebut.
"Dwi, Widya telah tiada. Sahabat kita telah mendahului." ucapnya Rani seraya mengusap sudut pelupuk mata yang tergenang buliran bening. Dwi terdiam, ia tidak menyangka jika Widya akan mendahuluinya, padahal kemarin siang dirinya di curhati Widya perihal penyakit yang di derita gadis sebatang kara tersebut. (*/id)

Cerpen lain, Di Lingkar Api

Recent Posts

Comments

Responds for "Widya Telah Tiada"

Mayuf
02 Dec 2016 - 01:37

Ga kuat bacanya

Macan Rabiez
02 Dec 2016 - 14:28

Inalillahi wainalillhairojiunnnnn

beni
10 Dec 2016 - 17:18

menyentuh

New comments are closed because the post has been more than 14 days.

Navigation

Category

top.nextwapblog.com
Powered by NextWapBlog.com